Vihara Mahasampatti
  2021-02-28 03:34:29
Māgha Pūjā 2564 BE/2021 | 28 February 2021

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa MĀGHA PŪJĀ Sabbapāpassa akaraṇaṁ, kusalassūpasampadā. Sacittapariyodapanaṁ, etam Buddhānasāsanan’ti Tidak melakukan segala perbuatan buruk, melakukan perbuatan baik, Membersihkan batin sendiri, ini adalah ajaran para Buddha. (Ovāda Pāṭimokkha) Māgha adalah nama bulan pada kalender Buddhis, bersamaan dengan bulan Februari pada penanggalan Masehi. Pada bulan purnama dalam bulan Māgha ini terjadi satu peristiwa penting yang terjadi satu kali saja dalam 45 tahun sejarah kehidupan Buddha Gotama. Pada bulan purnama di bulan Māgha, sembilan bulan setelah mencapai penerangan sempurna di bawah pohon Bodhi pada bulan purnama di bulan Vesak, Buddha Gotama berada di hutan bambu (Veḷuvana Ārāma). Pada saat itu berkumpullah 1250 bhikkhu yang memiliki empat ciri (cāturaṅgha-sannipāta): 1. Semua bhikkhu telah mencapai tingkat kesucian arahat; 2. Semua bhikkhu ditahbiskan oleh Buddha (ehi bhikkhu upasampadā); 3. Mereka berkumpul tanpa janjian terlebih dulu; 4. Buddha memberikan khotbah yang disebut Ovāda Pāṭimokkha. OVĀDA PĀṬIMOKKHA Khantῑ paramaṁ tapo tῑtikkhā – nibbānaṁ paramaṁ vadanti Buddhā Na hi pabbajito parūpaghātῑ – samaṇo hoti paraṁ viheṭhayanto Sabbapāpassa akaraṇaṁ – kusalassūpasampadā Sacittapariyodapanaṁ – etam Buddhānasāsanaṁ Anūpavādo anūpaghāto – pāṭimokkhe ca saṁvaro Mattaññutā ca bhattasmiṁ – pantañca sayanāsanaṁ Adhicitte ca āyogo – etaṁ Buddhānasāsanaṁ Kesabaran adalah cara melatih batin tertinggi. Para Buddha bersabda nibbāna adalah tertinggi. Seseorang yang melukai orang lain, menyakiti orang lain, bukanlah rohaniwan (orang yang sudah tidak berkeluarga), bukan petapa. Tidak melakukan segala per-buatan buruk, melakukan perbuatan baik, membersihkan batin sendiri, ini adalah ajaran para Buddha. Tidak menghujat, tidak me-nyakiti, terkendali dalam peraturan bhikkhu (pāṭimokkha), tahu ukuran dalam hal makan, berdiam di tempat sunyi, berusaha mengembangkan batin luhur, ini adalah ajaran para Buddha. Catatan: 1. Khantῑ – sabar menghadapi kesulitan, penderitaan badaniah (kepanasan, kedinginan, lapar, haus dan lain-lain) dan sabar menghadapi kesukaran, penderitaan batin (dihina, dicaci, difitnah, dan lain-lain). 2. Nibbāna – bukan alam kehidupan tapi keadaan batin yang bebas dari kekotoran batin (keserakahan/lobha, kemarahan/dosa, kegelapan batin/moha). Nibbāna dapat dicapai dengan melaksanakan sῑla, samādhi, paññā (pannya). Nibbāna adalah tujuan akhir dari ajaran Buddha. 3. Umat Buddha khususnya bhikkhu tidak melakukan kekerasan fisik dan verbal. 4. Tidak melakukan segala perbuatan buruk yang merugikan diri sendiri, orang lain dan masyarakat. 5. Melakukan perbuatan baik yang bermanfaat untuk diri sendiri, orang lain dan masyarakat. 6. Memurnikan batin sendiri dengan melaksanakakan sῑla, samādhi, paññā (pannya). 7. Bhikkhu adalah rohaniwan (pabbajita), umat Buddha yang tidak berkeluarga, melaksanakan 227 peraturan/sῑla yang disebut “pāṭimokkha”.