Vihara Mahasampatti
  2019-09-25 05:44:11
SPD Day 24 (08 Mei '19)

SPD Day 24 (8 Mei 19) Pengendalian Diri Terhadap Celaan Oleh: B. Thitaviriyo Tidak dimasa lalu, dimasa mendatang ataupun masa sekarang ini, dapat ditemukan orang yg selalu dicela maupun selalu dipuji. (Dhammapada 228) Walaupun kita sudah berusaha melakukan sebaik-baiknya berbuat baik, terkadang pun masih ada yang mencela. Kita tidak bisa menghindari celaan dan tidak perlu marah/sakit hati jika dicela. Berikut tips menghadapi celaan: 1. Ketika kita dicela, itu merupakan buah karma buruk. Jika kita marah ketika ada yang cela, sebetulnya kita sedang membuat karma buruk. Dengan merenungkan hukum karma, bahwa apa yang kita dapat itu berasal dari perbuatan sendiri, kita tidak perlu bereaksi untuk membuat karma buruk baru. 2. Dalam Brahmajala Sutta, Sang Buddha menasehati para bhikkhu bahwa jika ada yang mencela ajaran-Nya, tidak perlu marah. Dengar dulu apa yang dikatakan. Jika benar, akui benar, dan perbaiki diri kita. Jika salah, beritahu seperti apa yang benar. Jadi jika ada yg mencela kita, kalo itu memang kita salah maka perbaiki lah kesalahan itu. Orang dicela kalau berbuat yg buruk/melanggar Sila 3. Dlm Kakacupama Sutta (Majjhima Nikaya), Buddha mengatakan \"jika ada yang menggergaji badan kita satu per satu, dan jika kita memiliki kebencian pada orang yang menggergaji tersebut, engkau bukanlah murid Ku. Jika digergaji saja tidak boleh marah, apalagi hanya dicela. 4. Jadikan ini kesempatan untuk berlatih kesabaran. Orang yg mencela adalah guru kesabaran kita. 5. Tidak ada di dunia ini di mana seseorang itu selamanya dipuji, atau selamanya dicela. Buddha yg Maha sempurna pun masih dicela. Dicela adalah hal yang wajar. Yang tidak baik itu dicela karena berbuat buruk. 6. Jadikan perenungan Anatta. Sesungguhnya siapa yang dicela. Aku? Siapakah yang disebut aku? Jasmani ini bukan aku, bukan milikku, dan bukan diriku, bukan milik kita. Sesungguhnya kalau kita marah karena kita salah memandang diri ini. 7. Celaan itu hanyalah 'suara'. Suara ini masuk ditangkap oleh indria, diproses oleh batin. Jadi sebenarnya itu hanya suara yg salah dimengerti oleh batin. Jika kita belajar meditasi maka kita bisa mengenal ini sebagai suara saja bukan sebuah celaan. Latihan meditasi sebagai cara untuk memperhatikan bagaimana muncul dan lenyapnya kemarahan/kejengkelan. Selain belajar untuk tahan terhadap celaan kita juga perlu belajar bagaimana cara agar kita tidak mencela orang lain. Sebelum mengucapkan sesuatu, kita perlu memperhatikan 5 hal ini yang diajarkan oleh Buddha: 1. Apakah yang kita ucapkan benar? 2. Apakah yang kita ucapkan bermanfaat? 3. Apakah yang kita ucapkan tepat waktu? 4. Mengucapkan kata-kata yang baik, tidak menyinggung perasaan. 5. Diucapkan dengan Cinta Kasih Kita lebih sering mencela dari pada memuji. Mencela itu menggunakan kacamata negatif. Sekarang kita belajar menggunakan kacamata positif yaitu melihat sisi positif dari orang lain alias memuji. Jika kita memuji maka kita akan bahagia dan yg dipuji pun akan senang maka kita membuat kebahagiaan disekitar kita. Seringlah memuji dan kurangi mencela. Kalau pun harus mencela seseorang, celah lah perilaku nya bukan pribadi nya. Suka mencela tidak akan membuat seseorang menjadi bahagia.