Vihara Mahasampatti
  2019-07-08 01:58:45
SPD Day 20 (04 Mei '19)

Faktor untuk Munculnya Kebahagiaan di dalam Diri Oleh: B. Cirajayo Kita sebagai umat Buddha tentu punya tujuan yaitu ingin mencapai kebahagiaan. Di dalam masyarakat Buddhis, umat Buddha dikelompokkan menjadi 2 (dua), yaitu yang hidup sebagai perumah tangga dan yang bukan perumah tangga. Baik perumah tangga atau pun bukan perumah tangga, semuanya adalah pilihan berdasarkan kecocokan. Walaupun dari cara hidup berbeda, tetapi tujuannya adalah sama, yaitu ingin mengakhiri penderitaan dan ingin merasakan kebahagiaan. Tetapi, di dalam masyarakat terkadang definisi kebahagiaan itu agak sulit, karena kebahagiaan yang umumnya diraih dan dirasakan kadang berbeda definisinya dengan kebahagiaan yang sesuai Dhamma. Kebahagiaan yang dirasakan masyarakat pada umumnya itu adalah kebahagiaan yang sifatnya inderawi, yang munculnya karena kontak panca indera dengan objek yang ada di luar dan sifatnya sementara. Oleh karena itulah sering muncul ketidaknyamanan, ketidaksenangan sebagai akibat karena menggantungkan kebahagiaan pada objek luar. Lalu bagaimanakah kebahagiaan yang sesuai dengan Dhamma? Tentunya adalah bahagia yang kita wujudkan, munculkan, dan upayakan untuk dapat dilakukan dari dalam diri kita sendiri. Oleh karena itu, janganlah pernah menggantungkan kebahagiaan pada apa yang ada di luar. Inilah pentingnya belajar dan praktik Dhamma, supaya kita bisa membedakan antara kebahagiaan inderawi dengan kebahagiaan yang sesuai Dhamma. Sang Buddha menyampaikan, ada 4 Dhamma yang bisa menunjang munculnya kebahagiaan dan sebagai pegangan agar tidak hanyut dalam arus penderitaan, yaitu: 1. Sacca: kejujuran/ kebenaran Oleh karena kejujuran menghasilkan kepercayaan dan menciptakan keharmonisan. 2. Dama: mengendalikan pikiran sendiri Berlatih untuk senantiasa mengendalikan dan menjinakkan pikiran, bukan yang di luar tetapi yang ada di dalam batin sendiri. Oleh karena yang di luar tidak mungkin selalu tunduk dengan diri kita. Namun, yang paling mungkin adalah melatih dan mengendalikan pikiran sendiri. 3. Khanti: kesabaran Sabar terhadap penderitaan dan ketidaknyamanan yang tengah dialami, baik pada jasmani maupun batin. 4. Cagga: kemurahan hati Sifat batin positif yang terwujud dalam bentuk berbagi, baik secara materi maupun non materi, menolong, bahkan memaafkan kesalahan orang lain.