Vihara Mahasampatti
  2019-07-07 08:58:12
SPD Day 11 (25 Apr '19)

Adakah Warisan Kamma? Oleh: B. Cittajayo Orangtua biasanya selalu menjadi tolak ukur bahwa anaknya sukses atau tidak. Dalam istilah umum disebut buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Jika orangtuanya buruk, maka anaknya juga buruk. Namun hal ini tidak bisa sinkron dengan Dhamma. Karma orangtua tidak bisa diwariskan kepada anaknya. Dalam Khuddaka Nikaya disebutkan ada 3 (tiga) karakteristik anak: 1. Anak yang kelahirannya lebih unggul dari orangtuanya. 2. Anak yang kualitas perilaku dan moralitasnya sama dengan orangtuanya. 3. Anak yang kualitas perilaku dan moralitasnya lebih rendah dari orangtuanya. Proses menjadi baik atau buruk juga tentu beda bagi masing-masing anak. Ibarat ketika kita beribadah ke vihara. Ada proses yang disebut input, yaitu ketika masuk ke lingkungan vihara. Kemudian ada proses transformasi, yaitu di saat membaca paritta dan mendengar ceramah. Dan terakhir yaitu hasilnya, output, apakah mampu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Jika bisa, maka itu disebut berhasil. Jika tidak, maka gagal. Begitu pula prosesnya terhadap pembentukan perilaku anak. Maka peran orangtua adalah mendidik anak, karena orangtua adalah guru pertama. Anak biasanya akan mencontoh apapun yang diucapkan dan dilakukan orangtuanya. Maka ketika anak nakal, berbuat buruk, orangtua akan terkena dampaknya. Dan itu bukan turunan karma, bukan karma warisan. Dalam Abhinhapaccavekkhana telah disebutkan bahwa diri sendirilah pemilik, pewaris karma sendiri. Anak punya kewajiban untuk menyokong orangtua ketika sudah bisa memiliki pendapatan sendiri. Sebab sebelumnya anak telah disokong sejak ia kecil hingga dewasa, makan anak harus berpikir untuk menyokong kembali orangtuanya. Kewajiban orangtua terhadap anak adalah mengarahkan anak ke jalan yang benar dan jauhkan dari hal-hal yang tidak baik, serta memberikan keterampilan untuk bertahan hidup.